Friday, March 4, 2011

MENJADI ORANG TUA BAGI ANAK USIA 14 – 21 TAHUN

Anak adalah rahasia kesuksesan kita, yaitu jika kita betul-betul sudah menyiapkan anak kita, sehingga tauhid dan akidah si anak menjadi lurus.
Ada sebuah cerita tentang seorang pemuda yang akan dihukum mati. Pemuda ini memohon satu permintaan, yaitu sebelum dia dihukum mati, dia memohon dapat mencium ibunya, dan permohonan itu dikabulkan. Setelah dia mencium ibunya, maka ia kembali lagi ke tempat hukuman mati tersebut. Beberapa saat kemudian, pemuda ini memohon lagi untuk mendapatkan kesempatan satu kali lagi, yaitu untuk mencium lidah ibunya. Maka pemuda itu diberikan izin kembali, dan kemudian dia mencium lidah ibunya, dan dalam waktu yang begitu cepat, pemuda ini menggigit lidah ibunya sampai putus. Na’uzubillahi min zalik.

Apakah gerangan yang menjadi alasan bagi sang pemuda hingga tega menggigit lidah ibunya tersebut? Mungkin dapat dikatakan ini adalah anak ahli neraka. Sudah mau dihukum mati karena keburukan akhlaknya, masih saja melakukan keburukan yang lain.
Hendaklah kita belajar dari apa yang terjadi di alam ini. Semua fenomena ini diberikan kepada kita untuk kemudian menjadi pemikiran kita, dan juga menjadi dorongan hidayah bagi kita.
Pemuda tersebut mengatakan, “Belajarlah dari apa yang aku lakukan, wahai para Ibu. Selama aku tumbuh menjadi remaja, ibuku tidak meluruskanku.”
Dari cerita ini, dapatlah kita ambil hikmahnya, yaitu sesungguhnya anak-anak pada dasarnya menyukai kelurusan.
Dari hasil sebuah penelitian yang sudah cukup lawas dan bisa menjadi suatu acuan bagi kita, yaitu bagaimana anak-anak kita digoda oleh sebuah ghazwul fiqr, yaitu penjajahan pola pikir yang luar biasa di usia 14 – 21 tahun. Karena pada usia ini, ia sudah membangun dunianya sendiri. Ia sudah tidak hidup di dunia anak-anak yang masih lengket dengan ibunya. Ia sudah mau meluncur bagai anak panah yang melesat, dan dia berkata, “Aku mau melakukan apa yang ingin aku lakukan.” Dia sudah membangun dunianya sendiri.
Salah satu hal yang menjadi konsentrasi dan kepedulian kita yang utama adalah bagaimana tarbiyah jinsiyah (pendidikan seksualitas)-nya kita lakukan, yang hari ini kita ditantang betul untuk menjadi Ayah dan Ibu. Apakah kita mau menjadi orang tua yang sukses lahir dan batin, atau kita sukses lahir saja. Kalau kita mencari akhirat, sudah pasti dunia akan mengikuti kita. Tapi jika hanya mencari dunia, sudah pasti akhirat meninggalkan kita.
Menurut penelitian tersebut (pada tahun 1987), tempat jima’ (senggama) remaja yang hamil, mereka melakukannya di sekolah 28%, di taman 4,9%, di mobil 4%, di hotel 11,2%, di tempat parkir 2,78%, dan yang tertinggi dilakukan adalah di rumah yaitu 83% lebih.
Jadi dari data penelitian ini (tahun 1987), sudah begitu parahnya kehidupan anak-anak kita, sedangkan waktu itu siaran televisi di Indonesia masih begitu sedikitnya (hanya satu, yaitu TVRI). Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta dengan ghazwal fiqr (penjajahan pola pikir)-nya, yang dipasok terus menerus kepada anak-anak kita, sehingga mereka meyakini, bahwa yang mereka lihat itu adalah suatu hal yang benar. Bukankah dua kemampuan utama yang diberikan kepada setiap bayi adalah pendengaran dan penglihatan. Sayyid Qutb mengatakan, bahwa dari pendengaran dan penglihatan inilah masuknya berbagai macam faham dan ideologi.
Jadi, hal ini memiliki korelasi dengan kenyataan, bahwa anak-anak kita di usia 18 tahun adalah yang terbanyak mengunjungi pelacuran. Mengapa? Ternyata barulah kita ketahui, bahwa Indonesia (dan ini di Jawa Timur) merupakan lokalisasi pelacuran yang paling besar di Asia Tenggara, yaitu dengan jumlah PSK-nya pada tahun 1987 yaitu sebanyak 7.500 orang. Itu baru di salah satu tempat. Kini belum dilakukan lagi penelitian serupa, tapi sekarang sudah bisa disinyalir (dengan jangka waktu sebelas tahun dari tahun 1987 hingga sekarang), apalagi dengan perkembangan teknologi kini yang sudah begitu laju melesatnya, yang di satu sisi teknologi tersebut memberikan dampak positif, namun di sisi lainnya juga membawa dampak negatif.
Anak adalah amanat dari Allah. Apakah kita mau memiliki generasi yang hebat? Semuanya tergantung dari kita semua.
Seorang ahli mengatakan, bahwa yang nomor satu atau paling fundamental (mendasar) dari hubungan kita dengan anak kita yang berumur 14 – 21 tahun adalah cuma dua agendanya, yaitu harus kita tinggalkan cara kita yang dulu yang disebut concrete movement menjadi hidden movement. Kalau kita masih menggunakan cara concrete movement, maka dijamin anak kita tidak akan terlalu senang dilakukan seperti itu. Hidden movement adalah memberikan contoh, yaitu bagaimana kita sebagai orang tua memberikan contoh yang baik kepada anak kita secara perlahan-lahan, yang di dalamnya terdapat perhatian yang begitu spesial kepada anak kita.
Ada beberapa poin yang harus kita siapkan untuk bergaul dengan sukses kepada anak kita:
Pertama-tama, kita lihat dulu tiga citraan, apakah kita dapat mengkonfirmasi citraan anak kita itu terhadap dirinya sendiri. Gambaran dia terhadap dirinya yang kita bangun selama ini dari 0 sampai 14 tahun itu sesuai tidak dengan citraan dia yang ada di luar? Gambaran dia yang kita bangun itu apakah lebih baik atau lebih buruk dari citraan dia terhadap yang dipasok oleh luar. Misalnya dalam hal pacaran. Apakah gambaran dia itu bahwa dirinya memang wajar dan sepatutnya untuk punya pacar? Apakah dia seperti itu? Dia berurusan dengan gambaran kita. Apakah kita setuju dengan pacaran? Dan apakah dia membawakan dirinya ke luar seperti itu juga? Ini menjadi pertanyaan kita. Apakah dia setuju dan yakin bahwa ujian akhir nasional itu merupakan tolok ukur kecerdasannya? Apakah dunia luar memang memasok pikiran seperti itu? Dan bagaimana kita menganggap ujian akhir nasional itu untuk dia?
Secara gampangnya, lagi-lagi konsep diri yang kita bangun dalam hubungan keseharian kita kepada anak kita itu akan membawa sikap-sikap dia di masyarakat ataupun di dalam rumah, dan akan membawa kepada dia satu sikap yang lahir berupa keyakinan diri untuk dia membawakan misi hidupnya sebagai hamba Allah kelak yang akan menjadi manusia dewasa. Ini dilakukan menjelang dia dewasa (sekitar usia 14, 15, 16 tahun).
Apa yang harus kita lakukan sebagai konsekuensi dari citraan-citraan (jati diri) anak kita?
Yang pertama, kita memberikan pemahaman (menemani dia untuk memahami dirinya sendiri), bahwa dia (jiwa, fisik, dan ruhaninya) itu berubah. Kita menemani dan memahami dia, sehingga kita tidak complain dan tidak bingung. Kalau kita sudah memahami anak kita, berarti komunikasi kita dengan anak kita itu dapat dikatakan jernih, tidak ada kesal yang berlebihan, dan juga tidak ada marah. Sehingga kita dapat melihat sikapnya, apakah dia itu bengal, frustasi, dan sebagainya. Pada usia 14 – 21 tahun ini kita percaya bahwa dia sudah membangun dunianya sendiri, yang dunianya itu berbeda sama sekali dengan dunia kita.
Yang kedua, kita mempersiapkan si anak agar dirinya siap menjadi anggota sosial dari masyarakat. Kita mencoba untuk menerjunkan dia menjadi salah satu anggota masyarakat yang mengerti bahwa dia memang hidup di antara masyarakat.
Yang ketiga, kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi wirausahawan. Dalam hal ini, tidak harus kita mempersiapkannya menjadi pebisnis. Tapi dengan cara ini, bagaimana kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi manusia yang mandiri.
Yang keempat, kita memanggil anak-anak kita dengan panggilan calon ayah ataupun calon ibu. Dalam hal ini, sebenarnya kita mempersiapkan anak kita itu untuk menjadi suami ataupun istri yang baik yang tidak akan menyusahkan istri atau suaminya nanti. Ini penting, karena memang kelak anak-anak kita akan menjadi orang tua seperti kita, yang nantinya mereka akan menurunkan generasi-generasi penerus bangsa ini. Yang harus ditanamkan untuk mempersiapkan mereka menjadi suami atau istri yang baik itu antara lain: Pertama, agar mereka menjaga pandangannya. Kedua, tidak ikhtilaf (tidak bercampur baur) antara laki-laki dengan perempuan. Ketiga, jangan bersentuh kulit laki-laki dengan perempuan.
Dan yang harus selalu diingat, bahwa dari sekarang kita juga harus mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi mujahid-mujahid. Jangan sampai umat Islam seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, yaitu: “banyak, tetapi seperti buih”. Karena itu, marilah kita tanamkan kepada anak-anak kita agar memiliki kesadaran untuk membangun agama, bangsa dan negara ini.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment